#FF Rabu- Insomnia

facebooktwittergoogle_plusredditmail

Aku tak memilih tidur sebagai penolongku. Lampu remang-remang, alas tidur yang nyaman, sudah kucoba. Bahkan segelas susu coklat selalu kusesap. Namun semuanya gagal. Bayangan nilai merah pada sebuah kertas, diikuti geraman seseorang yang kupanggil Ayah, cukup untuk meluluhlantakkan alam bawah sadarku. Sama halnya dengan lebam di pipi Ibu dan tangisannya yang meraung, menenggelamkanku dalam hampa.

“Kau bisa mati karena insomnia!” kata temanku.

“Haha, tenang saja, aku belum minat mati,” sanggahku.

“Kalau begitu, ayo kuantar ke dokter,” kata pacarku.

“Nanti saja, kalau usaha terakhirku tak berhasil.”

Malam itu, kutenggak sebutir, dua butir, lima butir. Aku tak ingin bangun lagi, tidurku sempurna.

(Visited 26 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

Leave a Reply