flash fiction

#FF Rabu- Insomnia

Aku tak memilih tidur sebagai penolongku. Lampu remang-remang, alas tidur yang nyaman, sudah kucoba. Bahkan segelas susu coklat selalu kusesap. Namun semuanya gagal. Bayangan nilai merah pada sebuah kertas, diikuti geraman seseorang yang kupanggil Ayah, cukup untuk meluluhlantakkan alam bawah sadarku. Sama halnya dengan lebam di pipi Ibu dan tangisannya yang meraung, menenggelamkanku dalam hampa. 

Continue Reading…

Pak Lurah vs Pak Camat

Rabu minggu lalu sungguh kelabu. Kulihat Pak Lurah di pusat perbelanjaan. Senyum Pak Lurah merekah. Tangannya mengamit mesra perempuan muda. Kututup wajahku dengan map. Lalu Pak Lurah keluar mall. Kupinta sopir mengikuti mobil biru mereka. Bukan karena aku biang gosip. Sama sekali bukan. Adikku istri sahnya Pak Lurah!

Kesempatan Untuk Yohana

Di luar gaduh sekali. Derap langkah kaki menguat. Gedoran di pintu makin bertalu. “Keluar! Keluar Jenderal!” Tanganku digandeng Bapak menuju sisi rumah. Ya Tuhan, ada apa ini. Ade Irma terbangun, kami serahkan pada adikku di kamar sebelah.

Prompt #49: Mata Pelacak

Jilatan api melahap atap rumbai gubuk kami. Vorsatir masih berputar putar di udara, menggapai kepulan asap seraya memicingkan mata. Sayapnya merekah. Sisik keemasannya berkilau, senada dengan mata coklat di iris kiri, dan merah di kanan.

Karyasih, kekasihku

Ini kisah tentang seseorang yang aku sayangi. Ini cerita tentang kebanggaan di atas keterbatasanku. Kekasihku pergi merajut mimpi. Sementara aku, bergelut dengan keseharian yang sunyi, di dalam rumah petak peninggalan orangtua.

error: Content is protected !!