Cara Mengatasi Anak Mogok Sekolah

facebooktwittergoogle_plusredditmail

Cara Mengatasi Anak Mogok Sekolah

Beberapa hari ini saya dipusingkan soal anak yang nggak mau masuk sekolah. Padahal sebelum-sebelumnya mau lho, ya meskipun musti dibujuk mandi pagi dan sarapannya. Hingga kamis minggu kemarin, anak saya menyatakan nggak mau. Ketika saya tanyakan alasannya, si kakak hanya menjawab bosan. Saya coba negosiasi dong, dan tetap berakhir dengan nggak mau mandi, nggak mau sekolah. Lalu akhirnya si kakak mau mandi tapi nggak mau sekolah, mau ikut nyainya ke mall aja katanya, hedeh. Terpaksa deh saya iyakan, mungkin kakak lagi jenuh saja, batin saya. Apalagi malamnya dia habis ketemu ayahnya yang sempat menginap semalam sebelum berangkat workshop di Solo.

Maka ketika hari Jumat nya, harapan saya anak saya sudah mau dong masuk sekolah, kan sudah libur sehari. Eh, siapa sangka malah makin menjadi-jadi. Kali ini diiringi tangisan keras, dan saya terpaksa membujuk dengan kebohongan bahwa kita akan melihat kegiatan di sekolah, kalau seru, maka kakak akan tetap sekolah, dan sebaliknya.

Sampai di kelas, mulai terjadilah drama tersebut. Tangisannya diikuti dengan memeluk erat saya. Sambil menangis, anak saya berkata, “Najla nggak mau sekolah! ” dan setelah dibujuk menjadi kalimat, “Najla maunya ditemenin Bunda. ” Kyaa, saya sih mau saja menemaninya, tapi musti ijin dulu kan sama gurunya. Ending pengantaran di hari itu adalah, Najla dipegangin gurunya sambil nangis, sementara saya pergi, hiks hancur deh hati saya. Ngerasa bersalah banget ninggalin Najla dalam keadaan kayak gitu.




Ketika pulang sih Najlanya baik-baik aja, cerita kejadian di sekolah sambil ketawa-tawa. Bahkan habis saya antar, gurunya juga kirim wa dengan foto yang menyatakan si kakak udah mulai nyaman di sekolah. Nah, setelah drama hari jumat itu, kami pun liburan ke Solo. Najla seneng banget ketemu ayahnya dan jalan-jalan. Saya pikir hari Senin bakal mulus mau sekolah. Ternyata oh ternyata, tetep nggak mau! Haduh, kenapa lagi ini batin saya.

Saat saya tanya, “Kakak kenapa nggak mau sekolah? Ada temannya yang usil? ”
Dijawab, “Iya, Bunda. ”
Bunda:” Yang mana? ”
Najla: “Itu yang badannya besar sendiri. ”
Bunda: “Oh. Ya udah, nanti Bunda bilang ke Bu Guru ya. Kalau ada teman yang usil, Najla musti ngomong kalau itu nggak baik, dan Najla boleh lho lapor Bu Guru. Kalau teman-teman lainnya ada yang usil juga? ”
Najla: “Nggak ada, Bunda. ”
Bunda: “Kalau Bu Guru ada yang galak? ”
Najla: “Nggak Bunda. ”

Akar masalah

Bisa jadi ada masalah dengan teman

Terungkaplah Najla nggak mau masuk sekolah karena ada temannya yang ngusilin dia. Bilangnya sih cuma dia yang diusilin, teman yang lain nggak. Katanya, Najla dipukul.

Huaa, biasanya sih saya biasa aja kalau Najla berantem, tapi kalau sampai membuat dia nggak masuk sekolah, itu artinya sampai kepikiran kan Najlanya. Jadilah hari Senin itu saya membujuknya dengan berkata ke sekolah mau lapor Bu Guru aja.

Respon guru

Sampai di sekolah, saat saya menceritakan bahwa anak saya masih nggak mau masuk sekolah, menangis, dan menyatakan bahwa ada temannya yang usil, harapan saya ibu guru berkata akan mendamaikan, membuat mereka saling minta maaf dan memaafkan, dan sebagainya, tapi kenyataannya nggak gitu! Sedihnya, respon Bu Guru malah, “Oh, iya tapi Najla sekarang juga sudah mulai berani lho sama teman-temannya. Jadi ya sama-sama. ”
What?! Emak mulai baper.

Saya jawab, “Oh ya? Karena membalas setelah diusilin atau gimana? Tapi kenyataannya anak saya yang nggak mau sekolah? ”

Dalam hati saya sudah dongkol sekali. Seolah-olah beliau bilang kalau anak saya juga usil, jadi nggak usah lebay.

Hari itu saya pulang dengan wajah masam dan pikiran kemana-mana, Najla mau sekolah tapi saya temani dari jauh (yang lama-lama saya tinggal saat melihat Najla sudah keslamur). Terus terang saya ke perpustakaan kampus dengan swing mood. Aneh aja, kok malah nggak kooperatif ya gurunya? Kok malah anak saya yang dibalikin? Kok bukannya mencari solusi bersama, eh malah bikin tambah runyam. Saya pun introspeksi, oh mungkin tadi waktunya kurang tepat, saya diskusi saat mengantar anak sekolah, dimana para guru sudah mulai mengajar permainan untuk anak-anak lain. Lalu setelah wa yang panjang menyatakan kalau saya butuh solusi (karena terus terang membujuk Najla mau sekolah itu menguras emosi dan tenaga lho), dan nggak mau masalahnya berlarut-larut takutnya malah makin mogok sekolah.

Saya berniat mau diskusi lagi sama gurunya sepulang sekolah, kalau perlu duduk langsung bersama kepala sekolah. Sebagai orangtua yang ribet tapi care dengan kondisi anak, semestinya gurunya justru senang dong saya kooperatif. Coba kalau saya diem aja nggak menggali alasan kenapa anak saya nggak mau sekolah? Coba kalau saya cuek aja? Apa nggak pusing para guru neng-nengi anak saya?



Penyelesaian

Akhirnya terciptalah diskusi yang enak. Jadi selama tadi Najla di sekolah, gurunya sudah menggali siapa yang ngusilin Najla. Dimana? Di jawab di dalam kelas. Meskipun jawaban temannya adalah di luar kelas, Najla dipukul karena menghalangi mau naik prosotan. Lalu karena temannya yang berbadan besar itu belum minta maaf, maka diminta minta maaflah oleh Bu Guru.

Bu Gurunya bilang kalau kejadian waktu itu mereka nggak lihat, biasanya kalau sepengetahuan mereka, pasti langsung ditegur dan diajakin minta maaf. Semoga saja rasa tidak nyaman dan takutnya anak saya sudah hilang ya setelah temannya minta maaf. Kita lihat saja esok hari apakah mau sekolah. Gurunya juga sudah memotivasi untuk bersemangat sekolah.

Soal mogok sekolah ini, ternyata nggak cuma saya lho yang mengalami. Ada Mak Ety (blogger Solo) yang kedua anaknya pernah nggak mau sekolah, dan ternyata setelah diusut anak yang satu karena merasa nggak nyaman kelasnya terlalu ramai, sementara anak satunya karena kecewa pada Pak Sopir pengantar jemput yang pernah meninggalkannya sehingga harus menunggu 2 jam kemudian. Ada juga kisah Mak Juli (blogger Jogja) yang anaknya nggak mau sekolah karena kejadian habis dibully, diceburin ke kolam sama teman-temannya, hiks. Semua kejadian di atas tentu membutuhkan penyelesaian bukan?

Soal penyelesaian ini saya masih harus belajar banyak, sampai saya juga berguru ke Mak Arifah yang sudah makan asam garam menyekolahkan anaknya sejak usia 2,5 tahun. Ini dia cerita Mak Arifah:

“Tayo pernah mogok sekolah. Pas jaman TK sering bgt mogok sekolah. Tapi kalau pas dia mogok gitu aku juga nggak pernah paksa dia masuk sekolah. Biasanya aku tanya alasannya apa? Kalau Tayo seringnya dulu alasannya krn capek dan karena ada teman yg nakal. Klo pas alasannya capek ya aku tanya dia mau libur berapa hari. Kalo dia bilang mau libur sampai 5 hari juga aku bolehkan tapi harus janji klo sudah 5 hari harus masuk sekolah lagi. Alhamdulilah dengan cara begitu dia belajar konsisten dan menepati janji. Kalo soal malas masuk karena ada teman yang nakal, anaknya aku motivasi untuk nggak perlu takut sama temannya itu. Dan saat jemput sekolah aku juga pendekatan ke temannya yg suka jail itu, alhamdulilah lama-lama bisa akur dan ga berantem lagi. Malah anaknya jadi sobatan sama Tayo sampe lulus TK.

“Sekarang udah SD alhamdulilah nggak pernah mogok sekolah. Paling cuma ngeluh bosen ikut ekstra. Klo pas bosen juga aku ijinkan off dulu. Tapi minggu depan semangat lagi. Yang bisa bikin semangat karena Tayo juga udah punya cita-cita pingin jadi arsitek dan udah paham kalau punya cita-cita itu hrs sekolah. Kalo pas males sekolah aku ingetin ” Pingin jadi Arsitek kok males sekolah?” Dia langsung semangat lagi. “

Wow, mantap ya penyelesaian dari Mak Arifah. Beliau ini memang concern soal sekolah anak-anaknya. Monggo yang mau konsultasi bisa juga main ke blognya untuk tips-tips soal anak, terutama bagi ibu bekerja.

Solusi

Jadi kalau saya simpulkan, ada beberapa solusi yang bisa dilakukan jika anak mogok sekolah, yaitu:

1. Bicara dari hati ke hati

Bicara dari hati ke hati ini nggak mudah lho. Saat kita mencari tahu apa alasan anak nggak mau masuk sekolah, jawabannya bisa berubah-ubah. Jadi proses penggalian ini juga perlu waktu panjang. Bicara dari hati ke hati
Bicara dari hati ke hati ini nggak mudah lho. Saat kita mencari tahu apa alasan anak nggak mau masuk sekolah, jawabannya bisa berubah-ubah. Jadi proses penggalian ini juga perlu waktu panjang dan perlu kesabaran. Untuk anak yang belum bisa mengungkapkan apa isi hatinya, mungkin cara bicara tidak efektif, maka dapat dilakukan pendekatan mencari info dengan bertanya ke gurunya, atau minta ijin sekolah untuk melihat langsung proses pembelajaran selama beberapa hari ke depan (dengan kata lain, temani anak di sekolah)

2. Negosiasi dengan anak

Mungkin anak butuh liburan?

Setelah ketemu penyebab mogok sekolah, maka negosiasikan solusinya dengan anak. Misal kalau anak bosan atau capek, maka tanyakan mau libur berapa hari. Atau misal mau sekolah tetapi ditemani Bundanya selama satu-dua hari. Bila karena nggak enak badan atau sakit, jelas akan kita liburkan dong ya.

3. Diskusikan dengan gurunya

Jika penyebab mogok sekolah berhubungan dengan anak lain, atau berhubungan dengan orang lain misal guru, petugas sekolah, dan sebagainya, mau nggak mau kita harus berdiskusi dengan guru terutama wali kelas anak. Kayak cerita anak saya, saya diskusi sama gurunya, apa solusi terbaik. Sama seperti pengalaman Mak Ety bahwa solusi terbaik saat itu adalah memindahkan tanggung jawab antar jemput dari sopir ke orangtua sampai anak hilang rasa kecewanya. Jika berhubungan dengan proses belajar mengajar pun, guru bisa jadi perlu cara yang berbeda dalam mengajar anak kita, dan hal tersebut bisa tercapai jika kita sebagai orangtuanya menyampaikan ke guru tentang karakter atau cara belajar anak kita.

Cara dari Mak Arifah juga dapat saya coba nih, yaitu mendekatkan teman yang usil tersebut ke anak saya, tentunya bisa dengan bantuan Bu Guru.

4. Motivasi anak

Motivasi kalau sekolah itu seru dan menyenangkan

Setelah solusi dilakukan, maka tahap selanjutnya adalah memotivasi anak. Kita yakinkan mereka bahwa nggak perlu takut dengan teman yang usil. Kita juga motivasi anak kalau kegiatan di sekolah itu seru dan menyenangkan. Bertemu banyak teman itu juga mengasyikkan. Belajar dari cara Mak Arifah, anak juga dapat dimotivasi sesuai dengan cita-citanya kelak. Contoh nih kalau anak saya mau jadi Pelukis, ya motivasi bahwa Pelukis itu perlu sekolah biar pintar.

5. Pindah kelas/pindah sekolah/cuti

Wah ini solusi terakhir ya. Kalau memang masalahnya berat dan nggak bisa diselesaikan baik-baik. Opsi memindahkan ke kelas lain atau ke sekolah lain bisa jadi pilihan. Ada sih cerita salah seorang teman yang memang terpaksa pindah sekolah karena satu dan lain hal. Saya sendiri pernahnya mencutikan anak saya selama beberapa minggu, dan akhirnya bablas, hehe. Itu saat dia masih paud, dimana mungkin alasan mogok sekolahnya juga terkait usia atau kesiapannya dalam bersekolah. Soal memindahkan sekolah juga bukan hal yang instan lho, orangtua harus pikir panjang, karena sekolah yang sempurna itu nggak ada. Kurikulum dan pengajar sebagus apapun, tetap saja kan teman-temannya datang dengan berbagai latar belakang. Atau yang fasilitasnya bagus sekalipun, bisa jadi metode belajarnya justru tidak disukai anak. Ya, itu kembali kepada kebutuhan masing-masing anak dan orangtua sih.

Segitu dulu cara mengatasi anak mogok sekolah berdasarkan pengalaman pribadi, mungkin teman-teman ada yang mau menambahkan?

Kadangkala penyebab anak mogok sekolah itu tak terduga lho, dan hal tersebut membuat orangtua perlu lebih bijak, sabar dan mencoba mengerti anak.

(Visited 878 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

12 Comments

  • Ardiba August 30, 2016 Reply

    Wah. Iya ya. Banyak sebab anak mogok sekolah. Kadang terutama karena udah keasyikan liburan. Huhu

  • Arni August 30, 2016 Reply

    Wah syukurlah masalah sudah ketemu
    Memang harus bicara dari hati ke hati kalau urusan sama so kecil. Salah langkah, bukannya beres malah jadi ngambek bocahnya

    Ayo Najla semangaaaaaat!

  • Yoanna Fayza August 30, 2016 Reply

    coba Najla mulai dilatih supaya berani langsung lapor, dilatih menjelaskan terstruktur, karena kejadian pukul memukul diantara bocah ini memang sering mak, kita ga bisa selalu melindungi mereka..
    Arka aku latih bisa cerita kronologi masalahnya, sekarang lumayan, tiap berantem gurunya paham dan langsung diselesaikan.

  • mmmbull August 31, 2016 Reply

    Baca ini jadi pengen cerita deh, hehe, boleh ya mba :)

    Saat TK dan SD kelas 2 aku mogok sekolah. Masing-masing 1 tahun, jadi 2 tahun aku gak sekolah. Ayah masukin aku ke TK di usia yang cukup dini, jadi gak ketinggalan banget umurnya sama yang lain.
    Kalo ditanya soal alasan, aku sih lupa persisnya gimana. Tapi yang pasti waktu itu aku gak nyaman aja sama suasana sekolah, ramai, bising, banyak tugas dan gak ditungguin ortu (saat masih TK).
    Entah kenapa juga gak ada yang maksa aku sekolah (aku tinggal sama nenek), hingga aku pengen sendiri buat sekolah lagi. Dan syukur alhamdulillah, setelah gak masuk sekolah setahun gak ada hambatan berarti dalam mencerna pelajaran dan cukup berprestasi.

  • Prima Hapsari August 31, 2016 Reply

    Nathan juga pernah Mak Dian, karena pernah muntah di sekolahan dan jadi parno kalo muntah lagi. Sempat sehari dua hari ke sekolahnya harus agak dipaksa.

    Najla agak pemalu kayak Nathan ya Mak Dian, sabar aja nanti kalo udah TK B udah lebih berani dan mandiri kayak anak lain kok.

    Kiss buat Najla cantik.

  • ivonie August 31, 2016 Reply

    Siap-siap nanti kalau mas Aiman sudah sekolah. Jadi bisa punya solusi kalau mogok sekolah

  • Juliastri Sn August 31, 2016 Reply

    Hore, sudah ketemu masalahnya..semoga Najla gak mogok lagi ya..cemungud! 😀

  • April Hamsa August 31, 2016 Reply

    Ini yg kukhawatirkan kalau Maxy sekolah nanti, bosana apa gak? Tp moga2 nggak sih mbak :(
    Trims tipsnya ya 😀

  • winny August 31, 2016 Reply

    Pr banget ya kak

Leave a Reply

error: Content is protected !!