Budaya Sensor Mandiri, Dimulai dari Keluarga

facebooktwittergoogle_plusredditmail

Waktu Malaysia menunjukkan pukul 10.30 malam, dan terdengar ketukan di pintu kamar hotel saya. Ternyata kedua orang teman saya yang mengetuk, dan mereka bermaksud mengajak menonton AADC2 di mall di bawah hotel kami.

Wah, jauh-jauh ke Malaysia, nontonnya AADC2 juga, hehe. Sayangnya, saya sudah nonton sewaktu di Indonesia, jadilah saya menolak. Nah, dari sinilah cerita berawal. Esoknya, teman saya cerita kalau film AADC2 yang di Malaysia ternyata ada adegan yang disensor! Adegan apalagi kalau bukan adegan ciuman Rangga dan Cinta. Beda dengan tayangan di Indonesia yang tanpa sensor. Wah jadi bahasan seru nih!

Beberapa hari sebelum AADC2 tayang di bioskop, sosial media sudah ramai dengan seruan untuk tidak mengajak atau membawa serta anak-anak saat akan menonton film tersebut. Kenapa? Jelas karena ada beberapa adegan yang dianggap tidak sesuai dengan usia anak-anak. Sementara AADC2 sendiri merupakan film yang mendapatkan kategori usia R 13 (Remaja 13 tahun). Oke, mungkin soal kategori usia ini akan ada banyak pro kontra atau perbedaan pendapat. Dengan kata lain, mau tak mau kita sebagai konsumen dan masyarakat akan menerima kategori usia yang sudah ditentukan oleh LSF (Lembaga Sensor Film).

Persoalannya adalah, bagaimana pengawasan di lapangan alias di bioskop? Apakah ada anak berusia di bawah 13 tahun yang tetap menonton? Jawabannya, pasti ada!

Lalu, apa yang dapat kita lakukan sebagai orangtua dan orang dewasa untuk meminimalkan anak menonton film atau acara yang tidak sesuai kategori usianya? Ada sebuah cara, yang disebut sebagai BUDAYA SENSOR MANDIRI.

Apakah Budaya Sensor Mandiri itu?

Saya pertama kali mengenal istilah budaya sensor mandiri ketika acara RoadBlog Yogyakarta, dimana ada perwakilan LSF yang menjadi pembicaranya.

Budaya sensor mandiri berarti, kita sebagai orangtua dan orang dewasa, aktif memilih tayangan mana yang dapat ditonton atau tidak dapat ditonton oleh anak kita. Tayangan mana yang boleh ditonton tetapi membutuhkan bimbingan orangtua misalnya.

Tentunya anda masih ingat ketika dahulu acara di televisi selalu ada kategori usia di pojok atas, seperti BO (Bimbingan Orangtua), tapi kenyataannya, program tersebut juga tidak jalan, karena orangtua cuek-cuek saja atau bahkan tidak ada di tempat dan tidak mendelegasikan kepada orang rumah untuk membimbing dan menemani anak ketika ada tayangan BO. Seharusnya orangtua memberi batasan tontonan anak bila memang tidak ada pendamping di rumah yang bisa dimintai tolong.

Sayangnya, jarang ada orangtua yang mau seribet itu dalam memilah milah tayangan baik dari televisi maupun bioskop. Di sinilah pentingnya kesadaran orangtua dalam pendidikan anak. Mungkin sebagian besar orangtua tidak menyadari bahkan tidak percaya bahwa tontonan itu bisa sangat mempengaruhi anak, apalagi bila usia mereka masih kecil, belum baligh. Padahal, anak akan otomatis meniru, dan alam bawah sadarnya juga akan terus mengingat. Bayangkan bila mereka meniru dan mengingat hal-hal yang tidak seharusnya seperti kekerasan dan pornografi, kasihan, kan, otaknya jadi rusak, kelak ketika dewasa, tingkah lakunya juga akan rusak=(.

Jadi, jangan salahkan lingkungan, bila di generasi anak-anak kita lebih banyak kriminalitas. Introspeksi diri adalah langkah pertama. Apakah sebagai orangtua sudah maksimal dalam mengawal dan mendidik anak? Ataukah terkesan cuek dan tidak masalah terhadap apa saja bacaan dan tontonan anak?

Terus terang saya sendiri masih memilih kartun apa yang boleh ditonton anak saya lho, karena tidak semua kartun itu ceritanya cocok untuk anak-anak. Maaf menyebut merek, film kartun buatan Disney misalnya, banyak adegan yang tidak seharusnya dilihat oleh anak-anak. Alur ceritanya pun sering merupakan kisah orang dewasa dan pesan yang disampaikan pun tidak cocok untuk anak-anak.

Sama halnya dengan film kartun superhero, banyak adegan kekerasannya lho Ayah Bunda. Yuk, lebih selektif lagi memilih tayangan yang boleh ditonton anak kita.

Mengapa ada budaya sensor mandiri?

Kembali ke budaya sensor mandiri, sebenarnya selain alasan yang saya kemukakan di atas, LSF sendiri memiliki alasan lain mengapa menggaungkan budaya sensor mandiri ini. Indonesia diketahui terdiri dari berbagai suku bangsa dan berbagai budaya. Di beberapa daerah, mungkin suatu culture tertentu tidak masalah, tetapi di daerah lain menjadi masalah. Misalnya keberadaan tato pada suku tertentu, mungkin tidak sesuai dengan budaya ketimuran kita, tetapi nyatanya hal tersebut jelas ada di suku-suku tertentu di Indonesia. Nah, ketika para seniman daerah membuat film lokal, maka LSF menyarankan budaya sensor mandiri kepada komunitas pembuat film, dan para penontonnya.

Alasan lainnya adalah, beberapa film jika dipotong adegan yang kurang pantas/dianggap tabu, maka akan tidak enak ditonton. Secara estetika akan membuat alur jadi membingungkan, dan tidak semua pembuat film terima dengan pemotongan adegan yang mempengaruhi jalan cerita. Tapi hal tersebut tentunya tidak membuat LSF gentar untuk melakukan sensor.

Perlu diperjelas bahwa, budaya sensor mandiri ini bukan berarti LSF lepas tangan. LSF tetap melakukan sensor sebelum sebuah film diluncurkan. oh ya, untuk sensor acara televisi, merupakan tugas dan tanggung jawab KPI ya (Komisi Penyiaran Indonesia), bukan LSF. Jadi kalau ada adegan tak senonoh atau merokok misalnya, atau ada anggota tubuh pemain sinetron yang diblur misalnya, nah itu yang melakukan adalah KPI. LSF sendiri lebih kepada film yang beredar di Indonesia.

Bagaimana cara efektif budaya sensor mandiri?

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan kita sebagai orangtua dan orang dewasa, antara lain:

1. Sesuaikan film dengan kategori usia anak

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa setiap film ada kategori usianya. Pastikan tidak membawa anak untuk menonton film yang kategorinya di atas usia anak. Big No ya mengajak anak usia 4 tahun menonton kategori R 13 (Remaja 13 tahun), atau D 17 (Dewasa 17 tahun).

2. Tonton dulu film yang sesuai kategori usia anak, sebelum mengajaknya atau membolehkannya menonton.

Bila anda mempunyai anak usia 13 tahun, maka anda perlu menonton AADC2 terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada adegan yang tidak semestinya di tonton anak 13 tahun. Karena standar tiap orangtua berbeda, ya gunakanlah standar keluarga anda, mana yang boleh, mana yang tidak. Sama halnya untuk film anak-anak baik kartun ataupun bukan. Sebelum mengajak balita kita, pastikan film tersebut tidak mengandung kekerasan atau ada pesan yang tidak baik sesuai budaya ketimuran dan sesuai agama kita. Jangan sampai kecolongan ya Bunda.

3. Dampingi anak saat menonton film.

Kakak Najla menonton film bersama tantenya

Sebagai ibu yang memiliki anak balita, jelas saya mendampingi anak ketika menonton film. Bagaimana bila anak kita sudah SD? Tentu masih mau dong nonton sama orangtuanya. Nah kalau sudah remaja? Kalau saya sih tetap negosiasi dulu sama anak, jadikan anak sahabat yang mau curhat sama kita, sehingga untuk urusan nonton pun semoga masih mau bersama saya, orangtuanya. Kalau sudah malu nonton bersama orangtua gimana? Balik ke no 1&2, bila tidak sesuai kategori usia, larang dengan cara yang halus. Bila ada adegan tak layak tonton, larang juga atau bila bersikeras maka Bunda harus ikut (hehe, ini kondisi ideal ya). Pintar-pintarnya orangtua deh. Soal larang melarang ini, kadang-kadang ada anak yang semakin dilarang, malah semakin penasaran. Hmm, untuk anak yang seperti itu, Bunda harus bicara dari hati ke hati, berikan alasan yang masuk di akal.

Pendampingan juga tidak harus selalu oleh orangtua lho. Bila terpaksa, misal anak tidak nyaman menonton bersama orangtua, maka bisa lah didelegasikan dengan keluarga yang dipercaya. Misal remaja perempuan didampingi tantenya, remaja laki-laki menonton bersama para sepupu dan omnya.

4. Diskusikan film setelah menonton

Bagaimana pun juga, budaya sensor mandiri tidak hanya terbatas soal boleh atau tidak boleh, dampingi atau tanpa pendampingan, tapi juga soal yang lebih jauh daripada itu. Orangtua/orang dewasa perlu menggali penangkapan anak terhadap film yang sudah dia tonton. Tidak harus langsung di hari H habis menonton sih. Bisa saja dilakukan saat santai, ngobrol biasa membahas cerita film yang sudah ditonton. Pesan apa yang didapat anak? Hikmah apa dari film yang ditonton? Fungsinya agar kita bisa meluruskan bila ada pemahaman anak yang masih kurang tepat atau penangkapan yang berbeda.

Itulah beberapa hal yang perlu diketahui mengenai budaya sensor mandiri. Harapannya, bila semua masyarakat Indonesia tergerak untuk melaksanakannya, maka pendidikan dari rumah itu benar-benar dapat digalakkan. Tentunya dengan maksud agar tidak ada anak-anak yang meniru hal-hal yang tidak baik dari acara televisi ataupun film.

Yuk, galakkan budaya sensor mandiri, mulai dari keluarga sendiri!:)

(Visited 393 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

26 Comments

  • Anisa ae May 30, 2016 Reply

    Aku belum liat AADC. Nunggu punya filenya. Xixixi.

    Memang orang tua harus lebih jeli dengan tayangan sekarang . Jangan sampai kecolongan.

    • dian.ismyama June 2, 2016 Reply

      Iya Mbak, harus benar-benar pasang radar terhadap tayangan zaman sekarang

  • Dian Radiata May 30, 2016 Reply

    Aku nonton AADC2 di Bangka ama anakku… untungnya sepanjang film anakku tidur pules, hehehehe

  • Katerina May 30, 2016 Reply

    Aduh aku lupa belum nonton AADC :(

    Yuk budayakan sensor mandiri :)

  • ardiba May 31, 2016 Reply

    Aku nunggu filenya juga kayak Mbak Anisa, xixixixi
    Aku belum sempat bawa Ais nonton ke Bioskop, soalnya aku harus mastiin filmnya layak ditonton dia dulu, akhirnya keburu filmnya nggak tayang lagi deh. Haha!

    • dian.ismyama June 2, 2016 Reply

      Wkkka Mak Dib..atau paling nggak lihat trailernya dan baca reviewnya aja

  • Ihwan May 31, 2016 Reply

    Memang sensor pertama adalah keluarga, tanggung jawab ortu.

  • RohmaFAzha05 June 1, 2016 Reply

    bener bnget, kudu dampingi dan filter jenis2 tayangan televisi utk anak hhee
    nice artikel mba dian hee

  • cputriarty June 2, 2016 Reply

    Saya dan keluarga jarang sekali lihat2 bioskop, apalagi sampai ngantri hehehe, pada suka kegiatan outbbond sih. Tapi tips mbak patut diduplikasi deh, ntar dishare ke temen2 lainnya ya

    • dian.ismyama June 2, 2016 Reply

      Sekarang nggak ngantri Mbak, kan ada mtix sama kartu cgv=D. Saya juga suka outbond, aplagi anak saya, pantang duduk diam dia, senangnya lari-lari dan manjat2. Sip Mbak, smg bermanfaat

  • Ika Koentjoro June 2, 2016 Reply

    Kebetulan di rumah tidak menyediakan televisi. Biasanya donlot film anak2 dari internet. Sebenernya dari film anak2 juga bisa belajar banyak hal. Tapi ya emang harus didampingi si anaknya. Orang tua menjelaskan. Setelah nonton film biasanya aku diskusi dengan anak2. Hikmah apa yang bisa diambil dari film yang di tonton

    • dian.ismyama June 2, 2016 Reply

      Asyik itu Mak Ika..tv sekarang juga jarang ditonton, maksimal lihat berita aja. Najla waktu di Depok paling lihat vcd, tapi di rumah ortu, tv nya 3=((

  • saya belum nonton

  • Andi September 26, 2016 Reply

    kalo tonton dulu film sebelum mengajaknya anak sih buang2 waktu dan duit mbak
    mendingan nonton yg pasti2 aja buat anak kayak film kartun

    • dian.ismyama September 27, 2016 Reply

      Nonton dulu nya pakai tiket gratis. Haha. Ya mksdnya disesuaikan sikon lah

  • Akbar sugiyanto September 29, 2016 Reply

    Mba lomba ini kapan ya pengumumannya?
    saya tanya via email sih akhir bulan ini..
    kok ya sampe sekarang gak ada info juga ya?hehe

    • dian.ismyama September 30, 2016 Reply

      Iya belum ada pengumuman nya nih. Saya juga nunggu

  • echaimutenan October 4, 2016 Reply

    Selamaaat mbak :*

  • Triani Retno A October 9, 2016 Reply

    Waaa…juara 1. Selamat ya, Mbak.

  • yayu arundina October 11, 2016 Reply

    wooowww keren bangets tulisannya mbak Dian, padat, informatif dan fokus. Selamat yah. yuk ah traktir aku hahaha…

  • wow keren banget tulisannya mbak
    selamat ya mbak sebagai pemenang :)

Leave a Reply