5 Fakta Padepokan ASA yang Perlu Anda Ketahui

facebooktwittergoogle_plusredditmail

Kalau mendengar kata padepokan, apa yang Anda pikirkan? Saya sendiri jadi inget pencak silat, atau semacam sekolah mirip pesantren. Padepokan oleh KBBI diartikan sebagai tempat persemedian (pengasingan diri) raja-raja Jawa pada masa lalu. Zaman dahulu, para raja ataupun pembesar kerajaan yang telah mundur dari panggung politik kerajaan, pergi mengasingkan diri ke tempat yang lebih sepi, dan mendirikan sebuah pondok. Nah, ternyata banyak orang yang ingin belajar di pondok tersebut, sehingga akhirnya timbul lah nama padepokan.

Saat ini, padepokan lebih dikenal sebagai tempat kreatif seni, baik seni tari, lukis, beladiri, dan sebagainya yang berhubungan dengan budaya bangsa.  Sementara kalau arti dari bahasa jawanya, memang benar berarti sekolah atau asrama yang merupakan tempat belajar berbagai ilmu. Hal ini sesuai dengan nama Padepokan ASA, sebuah padepokan di Wedomartani Yogyakarta, yang didirikan oleh Sapto Anggoro.

Ada yang belum tahu tentang padepokan ini? Ada sedikitnya 5 fakta tentang Padepokan ASA yang perlu Anda ketahui.

  1. Padepokan ASA dibangun dengan semangat untuk membirukan planet.

Biru yang dimaksud adalah membuat bumi khususnya Indonesia menjadi tempat yang nyaman untuk penghuninya. Pernah dengar mengenai blue economy? Ekonomi biru berarti bagaimana membuat lingkungan sekitar menjadi bahagia dan sehat, bukan dari apa yang Anda punyai, tapi dari apa yang Anda lakukan. Blue economy juga berarti tersedianya akses terbuka untuk mengembangkan, menjalankan, dan membagikan model bisnis, agar dapat meningkatkan ekosistem natural dan kualitas kehidupan. Dengan semangat inilah, Padepokan ASA menjadi fasilitator atau penggerak agen perubahan. Hingga kelak, akan terbangun manusia-manusia dengan karakter sosial yang baik.

  1. Padepokan ASA adalah community incubator.

Apakah community incubator itu? Inkubator berarti sebuah tempat untuk pemanasan, persiapan sebelum sesuatu/ seseorang menemui dunia luar. Kalau yang sering saya temui sih incubator yang identik dengan sel bakteri dan bayi :D. Sama lah dengan konsep Padepokan ASA ini, yaitu menjadi rumah berbagi yang mempersiapkan para generasi muda, untuk digembleng, diajari, diinkubasi, agar kelak siap menghadapi dunia luar, khususnya diharapkan akan menjadi entrepreneur atau social entrepreneur. Dengan kata lain, Padepokan ASA, bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

  1. Padepokan ASA merupakan jembatan bagi organisasi dan komunitas.

Padepokan ASA tidak berdiri sendirian, melainkan ber- patner dengan berbagai komunitas dan organisasi yang sevisi. Dengan begitu, maka SDM yang dicetak juga lebih kreatif dan penuh soft skill kan? Selain itu, partnership berfungsi untuk menjadi jembatan dalam merangkul masyarakat. Bila organisasi dan komunitas ada yang terkesan eksklusif, maka sudah saatnya lebih berbaur kepada masyarakat, salah satu caranya ya melalui Padepokan ASA ini.

  1. Tiga bentuk kegiatan Padepokan ASA akan bikin Anda geleng-geleng kepala.

Saat saya menelusuri lebih lanjut soal Padepokan ini, saya menemukan sesuatu yang mengejutkan, yaitu kegiatannya yang kreatif, inovatif, dan bermanfaat. Ada 3 bentuk kegiatan Padepokan ASA, yaitu ASA Production, ASA Collaboration, dan ASA Community. Ketiganya merupakan kegiatan berupa seminar, talkshow, workshop, kesenian dan edukasi. Bedanya adalah, untuk ASA Production, penyelenggaranya adalah Padepokan ASA sendiri, sedangkan ASA Collaboration, penyelenggaranya adalah Padepokan ASA dan komunitas. Sementara itu, ASA Community diselenggarakan oleh komunitas/organisasi saja.

Salah satu kegiatan Padepokan ASA yang juga membuat saya terkagum-kagum, adalah TBM (Taman Bacaan Masyarakat) ASA Gedongan Lor, yaitu sebuah ruang publik yang didirikan untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Program ini jelas sangat bermanfaat bagi masyarakat umum, dan saya yakin di TBM ini tidak hanya disediakan buku bacaan, tapi juga ada kegiatan-kegiatan positif yang bisa meningkatkan kualitas SDM.

  1. Kelangsungan keberadaan Padepokan ASA adalah dari anggota untuk anggota

Mungkin ada yang bertanya dari mana asal sumber daya dan sumber dana Padepokan ASA? Ternyata, semua itu bersumber dari donor para anggota komunitas yang sudah sukses. Jadi, padepokan ini nantinya akan membantu anggota komunitas yang ingin mendirikan perusahaan, baik dengan cara mencari investor atau pun dengan membantu pembiayaannya. Padepokan bahkan menyediakan pinjaman untuk perusahaan baru dari anggota yang berbakat.

Nah, anggota komunitas yang sudah sukses tadi mempunyai pilihan untuk membantu padepokan, yaitu dengan menjadi donor/ penyumbang. Dengan suksesnya para anggota komunitas di Padepokan ASA, maka padepokan ini juga akan terus hidup dan berkembang. Sebaliknya, jika anggotanya gagal, maka menjadi risiko untuk padepokan, dalam artian, padepokan harus lebih mempersiapkan lagi para anggotanya untuk menghadapi dunia luar.

Suksesnya Padepokan ASA tidak terlepas dari pendirinya, yaitu Sapto Anggoro, atau lebih dikenal dengan panggilan Sapto. Bila melihat perjalanan karir Sapto, maka Anda akan tahu bahwa sukses tidaklah dibangun dalam semalam, tapi merupakan buah dari berbagai proses yang menempa.

Bagaimana perjalanan Sapto hingga menjadi penggerak perubahan?

Kita simak perjalanan hidupnya ya.

Siapakah dia? Pria ini sebenarnya sudah eksis di bisnis media sejak tahun 80-an. Meski perjalanan karirnya dimulai dari bawah, yaitu tukang cuci cetak foto di Surabaya, namun kegigihannya lah yang membawanya hingga menjadi Direktur Operasional di detik.com pada tahun 2011.

Sapto yang pada tahun 1986 menjadi tukang cuci cetak ini, sebenarnya bercita-cita menjadi penulis. Saat ada cuci cetak otomatis 1 jam jadi, Sapto pun merasa profesinya terancam punah, sehingga dia memutuskan untuk segera beralih profesi. Dia berpikir bahwa ketika pekerjaannya digantikan oleh mesin, maka tentu saja dia tidak akan dibutuhkan lagi. Oleh karena itu, Sapto pun putar otak mencari pekerjaan lain. Meski bingung harus beralih bekerja dimana, tapi minatnya dalam dunia tulis menulis lah yang justru muncul pertama kali di pikirannya.

Mengirim lamaran out of the box

Kala itu, sedang ada lamaran di bagian olahraga, di Surabaya Pos, dan Sapto dengan percaya diri langsung mengirimkan contoh tulisan. Saat hampir 50% teman sekampusnya mengirimkan lamaran,  justru dengan kreatifnya, Sapto mengirim tulisan. Suatu pembeda yang justru membuatnya diterima di sana. Contoh tulisan yang bagus, merupakan nilai lebih yang dimilikinya. Siapa sih pelamar yang out of the box seperti itu, selain Sapto?

Saat di Surabaya Post, Sapto menjadi penulis yang tak malu belajar. Bahkan satu setengah tahun sudah cukup untuk membuat Sapto bisa menjadi editor, sehingga tak dapat dipungkiri bahwa Sapto adalah seorang yang cepat belajar. Namun siapa sangka bahwa karirnya di Surabaya Post justru lama naik. Oleh karena itu, saat temannya menawari bekerja di Buana Pos, Sapto pun mengiyakan.

Ketika masa depan bisnis media ada pada internet.

Setelah pindah ke Buana Pos, ternyata takdir berkata lain. Tahun 1993, Sapto pindah lagi ke Republika. Di Republika, karir Sapto sangat melesat. Jabatan terakhirnya adalah Koordinator Liputan, sebuat amanah yang tak main-main, tetapi setelah 5 tahun di Republika, Sapto melihat hal lain dari bisnis media. Sapto melihat bahwa masa depan dunia bisnis media ada pada internet. Hal inilah yang membuatnya berani hijrah ke detik.com. Apalagi ketika tahun 1999, detik.com mendapat investasi dari Hongkong senilai 24 milyar, Sapto lantas diberi tugas untuk mencari wartawan yang banyak. Diberi wewenang untuk mengayomi dan membimbing banyak wartawan membuat Sapto belajar menjadi leader. Memang tak mudah, tapi Sapto adalah orang yang optimis.

Tak hanya itu, Sapto pun mulai belajar tentang dunia periklanan. Sebuah dunia yang tak pernah disentuhnya, tapi mendadak harus dikuasainya. Berbekal sikap pantang menyerah dan kerja keras, karirnya pun melesat di detik.com. Sapto akhirnya menjadi Direktur Operasional.

Sapto memang seorang yang dinamis, percaya nggak percaya, di saat karirnya sudah bagus, justru Sapto mencoba peruntungan di bisnis kliping digital. Siapa sangka bisnis tersebut masih jalan hingga sekarang. Selain itu, beliau juga merupakan patner strategis yang berhasil membawa merdeka.com menjadi media 3 besar di Indonesia. Tahun 2016, Sapto membangun Tirto.id, sebuah  News Analysis Base on Data and Sentimen.

Sapto berbagi ilmu

Keinginan Sapto untuk berbagi sangatlah besar. Hal ini lah yang mendasari terbentuknya Padepokan ASA pada tahun 2015. Padepokan ASA memiliki tagline house of sharing and incubation, sebuah tagline yang menjelaskan posisi padepokan ini sebagai tempat berbagi ilmu bagi siapa saja yang memiliki keahlian. Siapa pun yang mau berbagi di Padepokan ASA, tidak mendapat bayaran, sehingga memang murni berbagi ilmu. Sejak 2015, padepokan yang berada di Wedomartani Sleman ini sudah mengadakan dan memiliki banyak program.

Terbukti sudah, bahwa untuk menjadi sukses itu tidaklah instan, tetapi butuh melalui proses yang panjang. Atmaji Sapto Anggoro adalah salah satu bukti pebisnis media yang sukses, tetapi tidak melupakan kewajibannya sebagai manusia, yaitu membangun generasi muda, generasi penerus, dengan mendirikan Padepokan ASA. Semoga muncul Sapto Anggoro lainnya yang bisa berkontribusi untuk generasi muda Indonesia.

(Visited 71 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

7 Comments

  • Nunung Nurlaela May 3, 2017 Reply

    Weh…baru tau ada padepokan ASA…makasih sharingnya mak Dian ?

  • Ardiba May 4, 2017 Reply

    ASA tu Atmaji Sapto Anggoro to. Pas banget singkatan namanya..asa yaitu harapan..

  • April Hamsa May 5, 2017 Reply

    Kalau ke Yogya bisa mampir situ, bebas buat semua masyarakat kan ya?

  • Ika Maya Susanti May 14, 2017 Reply

    Eh iya Mbak, tahu istilah padepokan kok ingetnya sama pencak silat ya, hehehe…
    Tapi keren ya, ternyata ilmu yang bisa dipelajari di sana banyak banget.

Leave a Reply

error: Content is protected !!